• Apakah Semua Orang Sama?

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Pelajaran yang Tak Pernah Usai

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Hidup di Jalan Tuhan

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Menjadi “Biasa Saja”
  • Menjadi “Biasa Saja”
  • Menjadi “Biasa Saja”
Menjadi “Biasa Saja”

Menjadi “Biasa Saja”

Yang saya khawatirkan dalam hidup ini rasa-rasanya cukup banyak. Salah satunya adalah menjadi “biasa saja”. Lebih parahnya adalah menjadi biasa saja saat terasa sudah mengerahkan segalanya. Spesifiknya dalam hidup saya saat ini adalah, habis waktu, tenaga, dan perhatian pada rutinitas; kesibukan yang berulang-ulang begitu-begitu saja. Lama-lama jadi 30 tahun, lama-lama sadar sudah tidak lagi muda, dan lama-lama tua, mati tanpa menjadi siapa-siapa (kejauhan sih kayanya mikirnya).

Saya bertemu dengan Lilis kemarin malam. Kami kembali memperbincangkan sebuah rencana bertiga (Ardhi, Lilis, dan Mas Maung) yang pada pertemuan sebelumnya tempo hari kita bicarakan cukup berapi-api, ke sana kemari. Rencana itu dalam perkembangannya menjadi tidak ada perkembangan. Agar mudah dan cepat, saya menyalahkan kesibukan kami yang membuat rencana ini tersendat.

Saya bilang ke Lilis,” (Meskipun enggak tahu gimana caranya), rencana kita harus jalan Lis.”

Dia menyimak sambil tersenyum.

“Karena pada dasarnya, dijalanin atau enggak rencana itu, masing-masing kita akan ngerasa hidup udah “penuh”,” kata saya lagi.

Lilis mengangguk. Inisiator rencana ini sebenarnya adalah dia. Lilis juga yang menarik saya dan Mas Maung pada pusaran rencana ini.

Kami kemudian sepakat bahwa bagaimanapun kami akan mengupayakan rencana ini terwujud tuntas. For our own good. Kalimat yang menandai kesepakatan kemarin malam adalah:

“Kita harus melakukan yang tidak dilakukan orang lain untuk mendapatkan yang tidak didapatkan mereka.”

Melakukan yang tidak dilakukan orang lain-lah yang saya pikir sebagai salah satu cara untuk mengubah status “biasa saja”. Ya kurang lebih mirip kata-kata dari novel 5 cm:

“Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa…”

Sayangnya, hari ini saya menyadari dorongan untuk tidak menjadi biasa saja lebih banyak tergantung dari orang lain. Orang-orang lain itu dan dorongannya adalah:

1. Pak Berly
Tempo hari dia menyatakan kesediaannya menjadi pembimbing skripsi saya. Saya menganggapnya sebagai sebuah kehormatan, tapi tidak bersikap seperti seseorang yang mendapatkan kehormatan. Jika selaras pikiran dan tindakan saya, seharusnya saya sudah konsultasi ke Pak Helman, Pembimbing Akademik saya, untuk menanyakan apakah dosen pembimbing boleh berasal dari departemen lain (Pak Berly di Departemen Ilmu Ekonomi, sedangkan saya mahasiswa Departemen Ilmu Manajemen). Jika benar-benar niat, seharusnya saya juga sudah menindaklanjuti 2 jurnal yang dikirimkan Pak Berly menjadi proposal skripsi. Atau paling tidak benih proposal skripsi.

2. Mas Pandu (dan Adel)
Saya merasa perlu berteman dengan lebih banyak orang seperti Mas Pandu. Dia-lah yang menarik saya ambil bagian dalam lomba menulis IEO dan menghasilkan sesuatu yang memorable. Pagi ini Mas Pandu mengabari bahwa esainya bersama Adel lolos seleksi awal sebuah conference di Turki. Subhanallah. Saya jadi ingat 3 hari yang susah saat ikut lomba IEO, November lalu. Tapi tanpa melewati kesusahan itu, bukankah sertifikat dan gelar yang melekat seumur hidup juga tidak akan didapat, Dhi? (ngomong sendiri)

3. Mbak Anggi, Mas Pilar, dan Mas Meyru
Mereka adalah “kakak-kakak” yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 dengan beasiswa di Amerika. Tiap berkomunikasi dengan mereka, tiap itu pula semangat menyembul. Dorongan yang mereka berikan barangkali memang tidak terasa langsung. Tapi sungguhlah mereka patut dijadikan contoh. Siapa akan menganggap biasa saja peraih beasiswa S2 di Amerika?

Yang saya sadari benar, sekadar menulis hal-hal seperti ini tidak akan mengubah status “biasa saja” pada diri saya. Tapi semogalah, bisa menjadi pengingat dan penyemangat di kala-kala lesu seperti saat ini.

Semoga kata-kata Buya Hamka di bawah ini juga bisa semakin menjadi pengingat:

 

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

June 2017
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Gallery