Chatib Basri: Sebuah Catatan tentang Menteri Kesayangan

Chatib Basri: Sebuah Catatan tentang Menteri Kesayangan

Chatib Basri ditunjuk oleh Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Keuangan ketika pemerintah dan DPR tengah intens menggodok kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Siang hari begitu dilantik pada tanggal 21 Mei 2013, Chatib langsung memimpin rapat internal membahas isu yang sensitif itu. Keesokan harinya, dia mengikuti rapat dengan Badan Anggaran DPR membahas skema pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Harga BBM bersubsidi dinaikkan sebulan kemudian.

“Saya tidak sempat berpikir apa-apa. Begitu dilantik sebagai menteri, siangnya langsung rapat,” kata Chatib mengenang peristiwa itu di kediamannnya, Selasa (21/10) lalu. Sebagai Menteri Keuangan, Chatib menggantikan posisi Hatta Rajasa yang merangkap jabatan Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Keuangan. Chatib sendiri sebenarnya bukan orang baru di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati menunjuknya sebagai Staf Khusus sejak tahun 2005 hingga 2010. Di lingkungan pemerintahan, dia juga sempat menjadi Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Hampir 1,5 tahun memimpin Kemenkeu, sosok Chatib disukai karena piawai menjalin komunikasi dengan berbagai pihak sekaligus ahli menyederhanakan “bahasa ekonomi”. Kehadirannya sebagai menteri diterima bukan hanya di lingkungan internal, melainkan juga oleh pelaku pasar, anggota parlemen, hingga dunia internasional. Dia menjadi menteri kesayangan semua kalangan.

Menurut Sekretaris KEN, Aviliani, terdapat perubahan yang terasa di lingkungan Kemenkeu pada masa kepemimpinan Chatib. Sebagai “orang makro”, kata Aviliani, Chatib menguasai persoalan APBN dengan baik. Hal ini salah satunya tercermin dari pandangan Chatib soal subsidi BBM. Dia dinilai berani mengungkapkan alternatif pengurangan anggaran subsidi, antara lain dengan mekanisme fix subsidy atau mencabut subsidi dengan menaikkan harga tiga ribu rupiah. “Itu hal yang bagus sekali untuk diungkapkan karena tidak semua menteri berani melakukannya di publik,” kata Aviliani.

Chatib juga dipandang piawai dalam menjalin komunikasi. Bukan hanya di lingkungan internal Kemenkeu dan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Chatib dianggap berhasil merebut hati pelaku pasar, ekonom, dan parlemen. “Masukan-masukan dari luar banyak yang diakomodasi, sehingga tidak banyak kritik terhadap Pak Chatib,” ungkap Aviliani.

Dalam kesempatan berbeda, I Wayan Reda, Peneliti Senior di Center for Argicultural Policy Study, sepakat dengan pandangan Aviliani. Kuatnya pemahaman Chatib dalam hal makroekonomi membuatnya unggul dalam mengambil kebijakan. “Beliau pengambil keputusan yang selalu dilandasi dengan analisis komprehensif demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan,” kata Wayan. Sosok Chatib juga tidak mengalami resistensi karena dipandang konsisten dalam menjalankan kebijakan.

Di lingkungan internal, Chatib dipandang berhasil memunculkan kenyamanan bekerja di antara bawahannya. Arif Baharudin, Kepala Pusat Harmonisasi dan Analisis Kebijakan (Pushaka), Sekretariat Jenderal, menilai Chatib sebagai pribadi yang logic, prudent, dan mementingkan prinsip governance dalam mengambil setiap kebijakan. Emosinya sangat stabil, sehingga para staf Pushaka yang setiap hari mendampingi sang menteri tak mengalami hambatan berarti dalam menjalankan tugas.

Secara personal, lanjut Arif, Chatib adalah orang yang sangat bersahabat, ramah, namun tegas dalam mengambil keputusan. “Kegemaran pada seni seperti lukisan, musik, dan karya sastra, yang melekat pada Pak Chatib berpengaruh pada kepribadian beliau yang tenang, santai, dan sesekali diselingi humor,” ungkap Arif.

Di mata pengajar Australia National University (ANU), Hal Hill W. Arndt, sebagai Menteri Keuangan, keandalan Chatib meyederhanakan “bahasa ekonomi” yang terkadang kompleks adalah nilai lebih. Secara teknis, dia tak memiliki kesulitan berarti menyelesaikan kuliah master ekonomi di ANU yang ketat. Dalam pandangan Hal, Chatib dapat dengan mudah berbicara mengenai topik teknis yang kompleks, baik ekonomi makro maupun mikro, begitupun juga topik ekonometrika yang rumit. Lebih jauh, dia juga memiliki intuisi yang gesit, mampu memikirkan pertanyaan yang kompleks dan menyederhanakannya menjadi intisari-intisarinya. Setiap kali berdiskusi dengan Hal, Chatib selalu dengan cepat memahami poin-poin kunci. “Hal ini pastinya menjadi atribut yang mencolok dalam rapat dengan presiden dan anggota kabinet lainnya,” ungkap Hal. Atas segala nilai lebihnya sebagai ekonom, Hal bahkan tak rahu menyebut Chatib sebagai “ekonom dari para ekonom”.

Menjaga pasar

Di mata pelaku pasar, Chatib menjadi kesayangan karena usahanya yang selalu menjamin dan memberikan kepastian kondisi ekonomi kepada mereka. Termasuk pada masa pemilihan umum legislatif serta presiden dan wakil presiden. Menurut Chatib, bersama dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, dirinya berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi selama hajatan rakyat tersebut berlangsung. Yang dikhawatirkan saat itu adalah adanya kepentingan politik dalam pengambilan kebijakan. “Bersyukur Pak Agus dan saya berasal dari kaum profesional yang tidak involve di dunia politik,” kata Chatib.

Pada kondisi normal, komunikasi yang intens dengan pelaku pasar, media, dan parlemen selalu dia lakukan. Perkembangan kondisi ekonomi dan langkah-langkah kebijakan yang disiapkan pemerintah juga selalu dikomunikasikan sampai di dunia internasional. “Seperti misalnya di Singapura, saya menerima wawancara dengan CNBC, Channel News Asia, Reuters, dan media-media lain. Mereka sangat konsen mengenai isu proteksionisme, nasionalisme ekonomi, dan kontinuitas kebijakan kita, maka hal itu selalu kita sampaikan,” ungkap Chatib.

Chatib berpandangan bahwa menjaga pasar dengan menjalin komunikasi secara kontinyu adalah hal yang sangat penting. “Saya sengaja sering memberikan statement terutama kepada pers asing,” kata Chatib. Pada setiap pertemuan G20, Chatib selalu menyempatkan diri menerima wawancara media-media internasional. Perhatiannya pada urusan komunikasi ini membuat sosok Chatib sebagai Menteri Keuangan berbeda dari menteri-menteri lainnya.

Ekonomi ke Depan

Pada kesempatan wawancara tersebut, Chatib sekaligus mengingatkan bahwa kondisi perekonomian global pada tahun 2015 tidak akan mudah. “Saya kira akan sangat berat,” kata Chatib. Kebijakan normalisasi yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat dapat membuat return dari menyimpan uang di sana akan lebih baik dibandingkan dengan di negara lain. Tidak tertutup kemungkinan arus modal keluar dari negara-negara emerging market seperti Indonesia. “Kalau itu terjadi, defisit fiskal bisa meningkat, rupiah melemah, sehingga kita harus membayar utang dengan lebih mahal,” lanjutnya. Menurut Chatib, situasi ini mesti diantisipasi karena tidak tertutup kemungkinan kondisi pada tahun 2013 dimana Bank Sentral melakukan pengetatan quantitative easing dapat kembali terulang.

Dengan pengalaman menjaga fiskal negara selama 1,5 tahun terakhir, Chatib memprediksi pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun mendatang akan sulit dicapai. Jika Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan tingkat suku bunga, bukan tidak mungkin Bank Indonesia akan melakukan hal yang sama. “Kalau kita menaikkan bunga, defisit fiskal akan diperkecil, padahal di sisi lain recovery negara maju kemungkinan hanya terjadi di Amerika Serikat,” kata Chatib. Kondisi ini dapat berpengaruh pada ekspor yang diprediksi tidak akan terlalu tinggi. “Perkiraan saya tahun depan bisa tumbuh 6 persen sudah bagus,” lanjutnya.

Kebijakan antisipatif

Dalam analisis Chatib, pemerintah dapat menyiapkan sejumlah kebijakan antisipatif menghadapi perekonomian tahun mendatang. Kuncinya ada pada kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi. Hal ini bahkan sudah disuarakan Chatib sejak lama. Kebijakan ini dipandang akan efektif jika dilakukan sebelum Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan tingkat suku bunga.

Sementara cara menggali penerimaan pajak dipandang bagus, tetapi prosesnya tidak bisa dilakukan secara cepat. Jika Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan tingkat suku bunga pada kuartal pertama tahun depan, maka mustahil untuk meningkatkan penerimaan pajak dalam waktu sekitar lima bulan. “Dalam proses pengambilan keputusan, kita dihadapkan bukan hanya pada kondisi bagaimana kebijakan harus diambil, tetapi juga melihat pertimbangan waktu pengambilan keputusan,” kata Chatib.

Sebagai sosok yang diterima semua kalangan, Chatib selalu berusaha mengakomodasi masukan yang datang. Pada masa kepemimpinannya, wacana pemisahan Direktorat Jenderal Pajak dari Kementerian Keuangan cukup kencang didengungkan. Chatib menilai secara konsep, wacana tersebut bagus. Namun, ide tersebut harus memiliki dasar.

Sebenarnya terdapat opsi lain untuk pengembangan institusi yang bertugas mengumpulkan penerimaan pajak. Jika opsi pemisahan yang dijalankan, menurut Chatib, maka perlu mengubah Undang-Undang Pajak, Undang-Undang Keuangan Negara, dan Undang-Undang Perbendaharaan Negara. Keharusan mengubah undang-undang perlu dipertimbangkan karena di Indonesia prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun. Opsi kedua adalah memberikan fleksibilitas lebih kepada Direktorat Jenderal Pajak, misalnya dalam hal rekruitmen dan pemberian gaji. Namun, secara struktur tetap di bawah Kemenkeu.

Senada dengan Chatib, Aviliani memandang institusi pengumpul penerimaan pajak tidak perlu berada di bawah presiden. Alasannya, sudah terlalu banyak institusi yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Aviliani sepakat dengan wacana pemberian keistimewaan lebih kepada Direktorat Jenderal Pajak.

Setelah berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Chatib mengaku belum memikirkan rencana khusus. “Saya mau main play station melawan anak saya. Oh dan juga main flappy bird,” selorohnya di pengujung wawancara. Tampaknya sang menteri kesayangan pun ingin menjadi bapak kesayangan bagi anaknya.

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

September 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Gallery