• Apakah Semua Orang Sama?

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Pelajaran yang Tak Pernah Usai

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Hidup di Jalan Tuhan

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Dua Puluh Empat yang Datang Begitu Cepat
  • Dua Puluh Empat yang Datang Begitu Cepat
  • Dua Puluh Empat yang Datang Begitu Cepat
Dua Puluh Empat yang Datang Begitu Cepat

Dua Puluh Empat yang Datang Begitu Cepat

Dalam beberapa jam ke depan, usia saya akan bertambah. Hari ulang tahun sejujurnya adalah saat yang paling meresahkan bagi saya selama beberapa tahun terakhir. Saya mempunyai beberapa cita-cita yang sangat spesifik. Masalahnya, di titik saya berdiri sekarang, saya tak kunjung tahu bagaimana secara pasti mencapai cita-cita itu. Saya seperti sedang menaiki anak tangga yang tak kelihatan ujungnya. Bahwa Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri nan tak terprediksi adalah hal yang menguatkan hati.”Siapa tahu cita-cita besok pagi menghampiri, Dhi?,” sebuah suara di kepala mencoba memotivasi. Persistensi untuk terus memeluk impian-impian adalah doping yang lain. Persistensi membuat saya tak ingin menurunkan standard atau mengganti impian dengan “yang tampaknya lebih dapat dijangkau”.

Keresahan di hari ulang tahun antara lain disebabkan juga oleh keinginan untuk balik berbuat baik kepada lingkungan tempat saya tumbuh. Saya tak henti bersyukur dibesarkan dalam keluarga yang baik dan utuh, bersekolah di tempat-tempat favorit, dan tidak kurang siraman kasih sayang dan perhatian. Ketika duduk di bangku SD, saya ingat lumayan sering menjadi juara kelas, pernah jadi siswa teladan se-Kabupaten Jepara, dan masuk majalah milik pemerintah lokal di sana. Hal-hal semacam ini kiranya membahagiakan orang tua saya. Namun dalam perjalanannya, saya merasa belum se-membahagiakan dan se-membanggakan itu bagi Bapak dan Ibu. Walau sejatinya mereka tak sekalipun pernah meminta pencapaian yang tinggi selain hal-hal semacam rawat nama baik keluarga, sholat yang rajin, dan jaga kesehatan.

Pesan Bapak dan Ibu itu masih cukup sering terdengar hingga saya tinggal di Jakarta bersama keluarga Pakde dan Bude. Tahun ini adalah tahun ketiga saya menumpang di rumah mereka. Pakde dan Bude baik sekali. Saya menganggap keduanya sudah seperti Bapak dan Ibu kedua. Sebagai anak, baik kepada Bapak dan Ibu maupun Pakde dan Bude, saya sungguh ingin segera balik berbuat baik. Seperti Bapak dan Ibu, Pakde dan Bude tak pernah menuntut yang muluk-muluk. Nasihat Bude yang selalu ditekankannya adalah agar saya dapat menjadikan kejujuran sebagai prinsip utama dalam bekerja. Itu saja. Walaupun itu bukan “se-itu-saja” juga sih. :)

Saya kurang mengerti, tapi implementasi keinginan untuk balik berbuat baik yang mendominasi di kepala saya hanyalah melalui kesungguhan menggapai cita-cita. Rasanya tak pernah benar-benar cukup sebelum cita-cita mewujud. Maka dengan mereka yang belum keluar dari angan-angan itu, “Bagaimana cara yang paling baik untuk menyambut Dua Puluh Empat?” bak pertanyaan UAS paling berat.

Bagi saya, jelaslah Dua Puluh Empat datang begitu cepat. Meskipun kehadirannya sudah dapat diperkirakan sejak jauh-jauh hari, nyatanya saya tetap tak siap ketika dia muncul di depan mata. Saya galau, tak hendak membukakan pintu buat dia, tapi mana bisa?

Di lain sisi, kadang saya berpikir bahwa saya terlalu serius menyikapi masa depan. Ada bagian dari diri saya yang kayanya secara konsisten berusaha muncul dan mengatakan bahwa you really should appreciate yourself better. Kebaikan yang dibawa dari kemunculan another version of ardhi itu adalah kesadaran untuk banyak bersyukur. Benar juga. Bahkan terkait rasa syukur ini pun di atas sudah saya singgung sedikit. Maksud saya, toh meskipun mimpi-mimpi itu belum terpenuhi, dalam hidup sehari-hari bukannya sedikit hal yang bisa disyukuri.

Tuhan yang Maha Baik memberikan kesempatan untuk saya belajar dan bertemu dengan kawan-kawan ajaib di UI, bekerja pada bidang yang saya cintai dan ingin tekuni, serta doa dan dukungan dari keluarga yang tak berhenti.

“Whatever happens, the show must always go on baby,” kata suara yang sama di kepala.

Pada malam ini, Dua Puluh Empat ternyata tak hanya datang sebagai reminder bahwa masih ada cita-cita yang perlu diperjuangkan. Dia sekaligus seperti ingin mengingatkan saya bahwa bersyukur itu adalah juga bagian dari usaha.

Maka barangkali inilah pesan penutupnya,
Kepada Dua Puluh Tiga:

Terima kasih telah memberikan hari-hari yang banyak makna dan pembelajaran.

dan kepada Dua Puluh Lima yang menanti di ujung sana:

Percayalah, penantianmu tak akan sia-sia. Dua Puluh Empat akan menjadi tahun dengan energi yang bahkan lebih besar beberapa kali lipat.

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

Add a comment

Comments (6)

  1. Inez Thursday - 06 / 09 / 2012
    Sesekali tulislah mengenai arti teman2 PPLN dhi. Setdknya kmi pernah menjadi bagian dari hidupmu selama 3 tahun, dengan segala suka dan duka. Hahahaha..... Gak perlu resah soal umur dhi. Hidup itu gak pernah ada ujungnya khusus soal berjuang meraih cita2. Hanya maut yg bisa membuatmu berhenti meraih cita2. Bisa saja cita2mu itu bukan km yg raih, tapi kelak anak cucumu yg meraihnya untukmu. :D
    • mardho Wednesday - 24 / 10 / 2012
      jlep bgt nes,,,iya nih ardhi kok ga buat tentang kita2,,kalo aku sih suka menulis sesuatu yg berkesan buatku,,yg engga ya engga,,,jangan2 kita ga berkesan nihh,,,hohoho *pisslah,,,^^v sekarang itu gimana caranya supaya kita maksimal diusia kita yang sekarang,,,proses adalah bagian terpenting dari cita-cita dan tujuan,,,apapun hasilnya..."make our dream more value".... nikmati setiap proses yang ada,,,you'll get more than you dreamed
      • Dwinanda Ardhi Wednesday - 24 / 10 / 2012
        Hahahaa...dhoti sebenarnya aku pingin banget nulis tentang perjalanan ke Jogja, nikahannya abu sama nisa ituuu..tapiii belum sempet-sempet... *sedih* Tentu saja dong kalian sangat berkesan...tidak ada duanya di dunia... hahaha///
  2. Dwinanda Ardhi Thursday - 06 / 09 / 2012
    Inez, terima kasih telah mampir sebagai "tamu" pertama di sini... *peluuuk* Sangat amat ingin menulis tentang PPLN dan insha Allah akan menuliskannya nez..misalnya kali nanti pas kamu nikah, kita pada dateng ke Makassar kan seru tuh ditulis di sini..hehehe.. Bener banget nez, cita-cita ga boleh mati sebelum kita mati...Mari terus berjuang!
  3. Teguh Prasetyo Sunday - 07 / 10 / 2012
    Yes, Inez bener banget. Kalian anak-anak PPLN yg aku tahu sangat luar biasa kebersamaannya. Udah kaya family.
  4. Dwinanda Ardhi Sunday - 07 / 10 / 2012
    Could not agree more, Teguh! :)

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

June 2018
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Gallery