• Apakah Semua Orang Sama?

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Pelajaran yang Tak Pernah Usai

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Hidup di Jalan Tuhan

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Energi Membenci
  • Energi Membenci
  • Energi Membenci
Energi Membenci

Energi Membenci

Hari ini Sabtu, 22 Desember 2012, jam empat lebih sedikit, dan saya sedari pagi seorang diri di kantor.

Di luar, hujan deras menghalangi saya bertemu Bapak dan Ibu yang sudah berada di Jakarta sejak kemarin. Saya belum sempat menemui mereka.

Setelah menyelesaikan artikel terakhir, tiba-tiba menyeruak keinginan yang kuat untuk memeluk ibu dan menceritakan segala peristiwa dan perasaan yang mengendap di rongga dada.

Sebesar keinginan bercanda dengan bapak, yang raut mukanya seolah hendak selalu menggoda dengan kalimat,” Kamu begitu mirip Ibumu. Serius sekali memikirkan hidup.”

Segalanya yang terjadi akhir-akhir ini sungguh menguji daya tahan hati. Semua rasanya bermula ketika saya memutuskan untuk memasang target dan fokus lebih pada kuliah. Kita semua sadar, hidup adalah pilihan. Kita enggak bisa dapat semua. Dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi. Kenapa fokus pada kuliah? Karena saya tahu benar bukanlah termasuk dalam golongan mahasiswa pintar. Tapi saya ingin pintar dan bernilai baik. Ini sudah semester 3, dan saya hanya punya sedikit waktu tersisa untuk menambal IPK semester 1 dan 2.

Saya tidak dibesarkan dengan kewajiban untuk menjadi yang terbaik atau bernilai paling tinggi di sekolah dan kampus, jujur saja. Jadi segala motivasi benar-benar harus dipompa dari dalam hati sendiri. Dan itu, hingga detik ini rasanya belum berhasil sempurna. Godaan yang paling berat adalah, saya masih suka lebih mementingkan tidur daripada mengerjakan tugas sepulang kuliah.

Sekuat-kuatnya saya membagi jiwa dan raga untuk pekerjaan dan kuliah. Saya merasa, pada ujungnya, pekerjaan dan tugas-tugas kuliah bagaimanapun terselesaikan. Meskipun dengan tergopoh-gopoh.

Saya tidak keluar jalur.

Yang tidak dapat saya tahan kesedihannya kadang kala adalah, bagaimana sejumlah orang—yang padahal keluarga pun bukan—merasa berhak untuk masuk dan menilai pilihan hidup saya. Memberikan cap bahwa saya begini, padahal seharusnya begitu. Apakah mereka merasa sempurna dan tanpa cela?

Kata-kata tajam dan jelek tentang saya yang saya dengar langsung dari sejumlah orang itu maupun orang-orang lain yang mereka bisiki telinganya, jujur saja, mudah membuat saya berair mata. Tuhan sering kali menggunakan kuasanya untuk membiarkan saya mengetahui bagaimana sejumlah orang itu mempergunjingkan kekurangan saya di belakang. Sakit rasanya. Menghabiskan energi yang sebenarnya sudah habis untuk kuliah dan pekerjaan.

Perlu waktu sekian minggu untuk tidak membenci balik atau membalas perbuatan mereka sama jeleknya. Jika omongan buruk tentang saya datang, saya mencoba mengobatinya dengan imaji bahwa ibu sedang memeluk menenangkan saya. Dan bapak, dia selalu ada di dekat ibu untuk mengatakan bahwa dia bangga mempunyai anak seperti saya, no matter what.

Energi membenci merusak, bahkan orang yang tahu dia dibenci. Saya sungguh ingin tahu tidakkah sejumlah orang itu, yang di hatinya menyimpan kebencian terhadap saya atau siapa pun, sesungguhnya sedang membiarkan energi mereka sendiri keluar untuk sesuatu yang merugikan? Ataukah membenci itu sudah menjadi semacam doping positif dalam hidup mereka?

Dengan berfokus pada kuliah—yang multiplier effect-nya adalah memikirkan masa depan—saya jadi menemukan alasan untuk tidak membenci balik mereka yang membenci saya:

  • Meski terbarukan, akanlah lebih baik jika kita menggunakan setiap bulir energi untuk sesuatu yang positif dan membawa kaki kita melangkah lebih jauh;
  • Membicarakan kejelekan dan bergosip tentang orang lain sungguhlah mesti dihindari. Subhanallah. Saya bersyukur kepada Allah untuk memberikan kesempatan berada pada posisi orang yang digunjingkan. Sungguh sakit sampai saya berketetapan untuk tidak melakukannya lagi pada orang lain. Apalagi dalam ajaran agama saya, bergosip ibarat memakan bangkai saudara sendiri;
  • Bahkan Rasulullah pun mesti menghadapi orang-orang yang tidak suka terhadap dirinya selama menyebarkan ajaran Islam yang mulia. Apalagi saya yang hanya butiran pasir di dasar samudera?
  • Orang-orang yang kita benci memiliki keluarga dan lingkungan yang mencintai dan mendukung mereka. Maka sesungguhnya tidak ada satu pun orang di dunia ini yang hanya merasakan kebencian di hatinya. Pasti ada cinta, kadarnya saja yang berbeda-beda.

Sebagai penutup, rasanya quotes di bawah ini ada benarnya ya… 😀

Sumber gambar: http://bestprofilepicture.blogspot.com/2011/12/love-or-hate.html
Sumber gambar: http://www.risesmart.com/blog/why-the-hate-toward-recruiters
Sumber gambar: http://rachelbeer.posterous.com/great-people-talk-about-ideas-average-people

 

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

Add a comment

Comments (7)

  1. Desty Pardiyani Wednesday - 26 / 12 / 2012
    SEMANGAT mas ardhi .. anggap saja omongan orang'' itu hanya angin lalu .. dengan mendapat gunjingan dari orang lkain , ini menjadi dorongan untuk kita bisa lebih SEMANGAT lagi dalam meraih apa yang kita inginkan .. kita tunjukan bahwa omongan mereka itu tidak benar ^^ keep spirit :)
  2. Blogger Bahagia Friday - 04 / 01 / 2013
    sebaik apapun kita, tetap saja ada orang yang tidak suka. Tidak suka karena memang mereka benci, atau karena memang mereka tidak mengerti, hanya bisa melihat kita dipermukaan. Saya rasa ini semua pasti terjadi pada setiap orang... ga kita aja kok yang digunjingkan orang. Jadi, cuek aja dan tetap pada pilihan untuk selalu menjadi orang baik.....
    • Dwinanda Ardhi Sunday - 06 / 01 / 2013
      Terima kasih banyak Pak Octa, sangat supportif. Rasanya saya perlu juga lebih banyak bercengkrama dengan senior atau orang-orang yang lebih tua. Pingin bisa lebih tenang dan bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu.. :D
  3. treewahyu Friday - 18 / 01 / 2013
    hemm,,seperti katamu di tulisan ini,berarti ketika ada orang yang membicarakanmu, men-judge, etc...mas ardhi bisa mengubahnya menjadi sesuatu hal yang positif...menjadikan sarana untuk introspeksi diri dan memperbaiki diri...dan menunjukkan kepada mereka bahwa mas ardhi tidak seperti yang mereka katakan...untuk menjadi orang yang luar biasa tidak mungkin hidup dengan ujian yang biasa saja...Keep on spirit!!!
  4. Teguh Prasetyo Friday - 03 / 05 / 2013
    Ardhi, kamu masih simpan foto capture-an majalah yg pernah aku kirim ke kamu? Agnes cerita tentang filosofi pelari dan penonton?

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

December 2018
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Gallery