How To Save A Life

How To Save A Life

Tanggal 23 setiap bulan sifatnya keramat banget bagi tim redaksi di biro tempat saya bekerja. Itu adalah tanggal deadline majalah harus terbit. Tiap tanggal 23 (kalau dia jatuh di hari kerja), kami selalu pulang minimal jam 10 malam. Kalau tanggal 23 jatuh di hari Sabtu atau Minggu, maka deadline jadi maju Hari Jumat-nya. Penyusunan edisi Agustus ini memang pecah banget, kami pulang jam 12 malam. Alhamdulillah-nya rumah bude enggak terlalu jauh, jadi jam setengah 1 sudah sampai di rumah, walaupun begitu sampai di rumah hanya bisa tidur sejam aja karena mesti packing dan ngejar pesawat untuk datang ke nikahan sahabat saya Memed di Jogja.

Inilah pasangan yang berbahagia itu saudara-saudari, Memed dan Putri:

 photo PicsArt_1377757162804_Josh_Clean_zpsbe114d89.jpg

Selamat untuk kalian berdua…semoga jadi keluarga sakinah, mawardah, warrahmah..amiiinn…jadi pingin nyusul… *halah*

Anywaaay, yang agak PR dari setiap deadline, ibu atasan saya rumahnya di depok. Jadi jam 12 malem itu, saya mengantar ke Stasiun Gambir untuk beliau lanjut naik taksi ke depok. Yang bagian ini bikin salut ya, sebagai ibu dengan 3 orang anak, beliau punya dedikasi yang tinggi terhadap deadline. Naik taksinya itu seorang diri lho dan kan jauh ya Lapangan Banteng-Depok. Lintas provinsi lagi.

Gejala-gejala yang biasanya muncul di saya dan kayanya teman-teman redaksi yang lain pada musim deadline adalah muka kuyu karena kurang tidur dan mood senggol bacok. Sahabat-sahabat paling dekat jadi pun sudah hapal banget bahwa antara tanggal 20-23 saya lagi “masuk neraka”. Jadi mereka kayak sudah tahu gitu bahwa pada antara tanggal itu sungguhlah tabu ngajak jalan atau kumpul-kumpul. *agak lebay sih*

Nah, sekali lagi ya, deadline bulan Agustus ini memang sesuatu banget. Jangka waktu pengerjaan majalah yang biasanya sebulan, terpotong seminggu oleh cuti lebaran. Dan potongan-potongan hari libur ini sebenarnya berpengaruh banget ya untuk pekerjaan dengan deadline macam majalah. Jadi, jangka waktu yang lebih pendek kemarin itu cukup bisa bikin naik tensi sih. Hehehe…

Parahnya, masa deadline kemarin tabrakan sama tenggat waktu ngumpulin proposal skripsi dong. Dan ternyata mengurus proposal itu ribet juga ya.Yang paling utama adalah mesti gigih dalam mencari dan membaca jurnal acuan yang akan digunakan. Alur di kampus saya, setelah jurnal itu didapatkan, kita diharuskan untuk membuatnya jadi proposal yang kurang lebih menggambarkan garis besar skripsi. Lalu mahasiswa diminta menemui dosen screening dan melakukan konsultasi. Jika proposal kita sudah dianggap layak dan tidak perlu revisi, maka setelah itu kita menemui dosen pembimbing.

Bahagia di tengah derita

*Ya ampun drama amat sub judulnya*

Proses hingga pengajuan proposal dan dosen pembimbing saya, Pak Berly Martawardaya, benar-benar disetujui oleh kampus itu agak drama ya. Intinya saya mesti menghadapi jenjang yang berlapis untuk dapat restu agar Pak Berly dan saya–yang berasal dari departemen yang berbeda, meskipun dari satu fakultas yang sama–dapat melakukan bimbingan.

Setelah melalui proses yang cukup menguras emosi, akhirnya datanglah pengumuman resmi dari siak di bawah ini:

 photo siak_zpsea3bd626.jpg

Sungguh melegakan banget. Begitu pengumuman siak itu muncul, saya langsung mengirim email ke Pak Berly (yang cukup mengikuti perkembangan drama ini). Dan ini balasan beliau:

 photo berl_zps71669d8a.jpg

Nah, masa-masa deadline majalah dan proposal skripsi kemarin juga berubah jadi agak rileks waktu dapat kiriman ini dari Teguh:

 photo damn1_zps13e42bb7.jpg

Wow banget. Saya sama sekali enggak nyangka lho dapat paket ini. Maksud saya, yang berulang tahun di bulan Agustus adalah Indonesia, tapi yang dapat hadiah saya lho. *krik-krik*

Thank you bangad Teguh! Aku suka sekali kaosnyaaa…

Last but not least, kemarin itu saya juga dapat kiriman kartu pos dari Mas Amir, Mbak Anggi, dan Aghnan:

 photo card4_zpsa5d159b4.jpg

Kartu pos yang dikirim dari Amrik ini besar sekali artinya dan menjadi dukungan tersendiri bagi saya.

Thanks a bunch Mas Amir, Mbak Anggi, dan Aghnan…

*Mendadak jadi pingin peluk-peluk dan cium-cium Aghnan*

How to save a life

At the end of the story, saya sebenarnya juga bingung sendiri sih kenapa judul posting-an ini mesti How To Save A Life. Hahaha…

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

Add a comment

Comments (5)

  1. Teguh Prasetyo Tuesday - 10 / 09 / 2013
    I find this article of yours different from the other ones. And I love it. Kritiknya nanti2 aja lah via email (eh masa diary dikritik?). :D
  2. Dwinanda Ardhi Tuesday - 10 / 09 / 2013
    iya....selain terima kritik dan kaos, aku juga terima yang lain kayak kunci mobil dan rumah, iphone, sampai kue-kue pun kalau dikasih bakal diterima juga sih... hahahaha
  3. Teguh Prasetyo Wednesday - 11 / 09 / 2013
    Beneran terima kritik nih? tar aku dibilang ngehina lagi..

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

February 2018
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Gallery