Ide

Ide

Tulisan ini dibuat sekitar lima tahun lalu. Saya mengedit di beberapa tempat karena merasa temanya relevan hingga kini.

Pernahkah kamu merasa punya ide tapi tidak diapresiasi? Atau idemu dibantah tanpa argumen kuat, seperti “Yang penting kalau idenya dari kamu harus ditentang. Apapun itu.“. Lebih buruk jika, orang yang asal bicara menentang itu tak datang dengan solusi atau ide yang lebih baik. Atau kadang juga seseorang tak memberikan kesempatan ide kita untuk diimplementasikan dengan pendekatan kekuasaan. Misalnya karena dia atasan atau pengambil keputusan di tempat kita bekerja.

Jangan kecil hati.

Saya selalu percaya bahwa ide itu mahal. Maka, orang-orang yang punya ide adalah orang-orang yang mahal juga. Dan ini adalah salah satu jenis kelebihan yang diberikan Tuhan. Dari pemahaman itu, tentu ada orang-orang yang tidak diberikan kelebihan “punya banyak ide” oleh Tuhan, dengan pengganti kelebihan lainnya. Jika mereka tidak sadar akan hukum alam “setiap orang punya kelebihan dan kekurangan”, maka memuarakan insecurity pada orang-orang yang diberi kelebihan ide adalah kesalahan mendasar sebagai manusia. Apalagi menggali ide, seperti kemampuan manusia lainnya, bisa diasah.

Maka jika kamu merasa punya banyak ide dan menghadapi situasi dengan orang-orang seperti di atas, sekali lagi, jangan kecil hati.

Talk is cheap, but idea is expensive.

Tulisan tentang ide ini dulu lahir dari reaksi lanjutan saya terhadap status seorang kawan di facebook. Di situ dia menulis seperti ini: Kamar ini terlalu sempit bagimu. Akan kau kemanakan ide-ide yang telah kau bangun?

Reaksi pertama saya adalah langsung meng-klik tulisan like di bawahnya. Spontan saja. Di luar fakta bahwa cukup mudah untuk menemukan status-status yang bagi saya “kurang penting”, mengandung SARA, atau provokatif (bahkan, saya pernah menemukan status berbunyi: baru saja menyelesaikan rakaat pertama salat Magrib…), saya memang langsung terintimidasi. Ada yang berbeda dari makna status kawan saya itu.

Ide. Ini topik yang menarik buat saya. Dia tak ubahnya hal penting yang bisa dijadikan salah satu parameter seberapa jauh seseorang memanfaatkan akal pikirannya. Rasanya, tak berlebihan apabila dikatakan bahwa orang yang (selalu) tak ber-ide adalah orang yang tak tahu cara menggunakan isi kepalanya.

Rene Descartes, seorang matematikawan sekaligus filsuf Perancis, pernah melontarkan satu kalimat yang melegenda di jagad ini: Cogito ergo sum (Aku berpikir maka aku ada). Dalam dimensi yang lebih luas dari paragraf-paragraf di atas, saya membayangkan jika anak-anak muda sepakat dan mengimplementasikan kalimat Descartes, mungkin pemerintah tak perlu repot-repot mencanangkan tahun Indonesia Kreatif, dulu pada tahun 2009. Bahkan bukan hanya pencanangan, pemerintah sampai membuat kementerian sendiri untuk salah satunya mengurusi soal kreativitas, yaitu melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dari fakta itu, timbul beberapa pertanyaan di benak saya. Apakah berarti selama ini, sebagai bangsa, kita kurang kreatif dan cenderung menjadi pengikut dan peniru (followers)? Atau apakah selama ini kurangnya eksplorasi terhadap ide-ide kreatif justru menjadi pemicu insekuritas terhadap orang-orang yang banyak ide?

Keadaan bangsa ini- yang konon masih belum cukup kreatif- oleh beberapa kalangan lantas dianggap sebagai hasil dari kurikulum dan sistem pendidikan yang lebih membiasakan peserta didik menjadi pengikut, peniru, dan bukan penggagas. Sebagian lainnya berpendapat bahwa hal ini adalah akibat tidak kuatnya filter terhadap arus budaya asing yang masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kita sehari-hari secara masif. Ada juga yang mencoba mengaitkan masalah ini dengan globalisasi, di sana semua orang cenderung ingin serba instan, malas berpikir, dan maunya tinggal copy-paste. Bagi saya, di era ini, alasan-alasan di atas tidak boleh sampai bersifat apologetik hingga kemudian menyebabkan kita enggan beraktualisasi dengan ide-ide baru- bahkan kemudian hanya bisa menyalahkan kurikulum, sistem pendidikan, filter, atau globalisasi tadi.

Saya percaya bahwa setiap manusia sebenarnya dianugerahi ide, gagasan, dan pikiran kreatif. Kadarnya saja yang berbeda-beda. Yang paling mesti disyukuri adalah jika kita terlahir dengan banyak ide. Namun, punya banyak atau sedikit ide, semuanya kembali kepada cara untuk mendorong agar buah pikiran itu bisa benar-benar muncul dan bermanfaat. Manfaat itu bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Tulisan ini diharapkan sekaligus menjadi ajakan bagi anak-anak muda untuk membuat kamar mereka bertambah sempit dengan kehadiran ide-ide kreatif rancangan sendiri. Jangan khawatir takkan punya tempat untuk tidur akibat terlalu banyak gagasan. Mari, kita basmi semua alergi berpikir! Kalau sudah benar-benar tak cukup ruang, keluarkan! Biarkan alam merespons pikiran-pikiran kita, anak-anak muda yang kreatif.

Dan tentu saja, tinggalkan orang-orang yang tidak bisa memberikan apresiasi terhadap ide-ide baru, apapun motif dan alasannya. Pasti ada di luar sana, mereka yang bisa menghargai dengan cara memadai atas buah pikir dari kepalamu.

Sumber gambar:
http://moozup.com/blog/wp-content/uploads/2014/02/idea-bulb11.jpg

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

November 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Gallery