Berjalan Lebih Jauh

Berjalan Lebih Jauh

Saya lupa pernah membacanya di mana, tetapi ada sebuah tulisan yang intinya menyatakan bahwa usia 27 adalah saat terberat dalam hidup kebanyakan orang.

Tahun ini, jika Tuhan berkehendak, saya akan berusia 27 tahun.

Saya hakulyakin 27 sudah kategori umur akil balig. Sudah jauh dari masa pertama kali mimpi basah bagi seorang pria. Jika itu menjadi patokan kedewasaan, maka mestinya sudah banyak waktu untuk belajar memandang hidup lebih arif dan bijaksana.

Secara subyektif, usia 27 terasa berat bagi saya karena kegalauan selama satu dua tiga tahun terakhir justru berakumulasi. Setiap pertanyaan yang terjawab melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Begitu yang selalu terasa, entah sampai kapan.

Karena pertanyaan yang enggak ada habisnya, hidup seperti berjalan dalam alur, siklus yang susah ditebak.

Hampir setahun sejak ditinggalkan begitu saja oleh orang yang dulunya bilang sayang–sebutlah dia mantan–kegalauan belum sepenuhnya hilang. Tapi, mantan sebelum mantan yang ini pada waktu yang sama justru hadir lagi dengan baik-baik. Kami berkomunikasi dengan kesadaran penuh tidak untuk kembali dalam sebuah relationship. Pure friendship. No CLBK. Dan ternyata bisa.


Pertanyaannya:
Kenapa? Kenapa kami ternyata bisa berteman dengan cukup baik? Kenapa saya enggak bisa move on dari mantan terakhir sementara dia sudah jauh melanjutkan hidup? Kenapa dengan yang satu ini hubungan tidak bisa membaik?

People come and go. Begitu mereka bilang. Maka saya berusaha tidak lagi hanya memikirkan kepergiannya yang tanpa kata. Apalagi yang mesti dipikirkan bukan cuma soal cinta.

Yang selalu betah tinggal di pikiran adalah soal karier apa yang ingin benar-benar saya tekuni. Dua minggu lalu saya mengantarkan Mas Maung, teman satu almamater di UI, berangkat kerja ke Myanmar. Beberapa hari sebelum dia berangkat, kami ngobrol selama sekitar empat jam. Panjang kami saling bercerita. Dari situ saya merasa mendapatkan value yang sangat berguna dalam hidup.

Hati saya basah. Entah kenapa saya menangis justru ketika perbincangan berakhir pukul dua pagi itu. Ini bukan tentang Myanmar-nya. Tapi soal Mas Maung yang ternyata telah berjuang begitu hebatnya. Perjuangan hidup yang dilalui selama bertahun-tahun. Saya ingin mengatakan padanya, “You deserve a bright future…”.

Dia melampaui batas-batas kesulitan di setiap tahap kehidupan hingga sampai di titik sekarang. Mendengarkan ceritanya seutuh malam itu membuat saya malu menjadi pribadi yang mudah mengeluh. Mudah tergoda. Mudah menyerah.


Pertanyaannya:
Bagaimana? Bagaimana caranya untuk bisa bermental baja dan bekerja ekstra seperti Mas Maung? Bagaimana caranya untuk berhenti berwacana dan bertindak nyata? Bagaimana mengumpulkan keberanian untuk ke luar dari zona nyaman?

Zona nyaman tidak berbahaya bagi mereka yang filosofi hidupnya adalah hidup aman dan stabil. Biasanya risk avoider. Makin dewasa, kita makin tahu diri sendiri bukan? Dan saya merasa kemapanan bukan sesuatu yang pas. Saya merasa kemapanan justru ada pada perubahan yang senantiasa.

Suara-suara yang terdengar di hati seperti membisikkan kegelisahan untuk berjalan lebih jauh. Kemapanan membuat saya berada dalam kenyamanan yang semu. Bahwa hidup lebih berharga dari itu. 

Mungkin dengan berjalan lebih jauh, kita bisa menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan di tempat ini. Bukan hanya tentang pekerjaan atau uang, melainkan juga alasan mengapa orang datang, bertahan, atau pergi dalam hidup seseorang. 

Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah 

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama

Berjalan Lebih Jauh – Banda Neira

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

July 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Gallery