• Apakah Semua Orang Sama?

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Pelajaran yang Tak Pernah Usai

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Hidup di Jalan Tuhan

    (Not Really) Diary

    Read more
  • Nobody Said It Was Easy
  • Nobody Said It Was Easy
  • Nobody Said It Was Easy
Nobody Said It Was Easy

Nobody Said It Was Easy

*bersihin sarang laba-laba*

Sahabat saya Guroh, mantan pemimpin umum Pers Mahasiswa Media Center, secara agak tidak terduga menanyakan kapan saya akan meng-update blog. Kawan-kawan terdekat memberikan respons yang cukup baik terhadap kemunculan personal blog ini dan menanyakan hal serupa, belakangan. Tapi, jujur saja, Guroh-lah yang membuat saya tersentak. Guroh seperti sedang menagih artikel untuk Majalah dan Koran Civitas–sesuatu yang saya lakukan kepadanya dan teman-teman “jurnalis mahasiswa” Media Center dulu. Rutinitas yang sedikit banyak membawa saya berdiri di titik yang sekarang.

Saya tersentak karena rasanya Guroh “curiga” apakah saya sesibuk itu sampai-sampai enggak sempat menulis blog. Soalnya, Presiden aja sempet gitu loh, diantara segudang kesibukannya, merilis beberapa album. Siapa saya sampai nulis blog aja enggak sempat?

Tulisan ini enggak spesifik untuk Guroh. Atau justru sebenarnya menjadi bahan penting untuk kontemplasi diri saya sendiri. Tidak terduga sama sekali, semester 3 datang bersamaan dengan seabreg tugas yang enggak habis-habis. Saya seperti sedang menempuh satu lokasi yang masih jauh, cuaca cerah, tapi tiba-tiba hujan deras dan saya enggak bawa pelindung apapun. Dalam keadaan basah kuyup, saya tidak memiliki opsi utuk kembali pulang. Jadi pilihannya, berhenti sejenak utuk berteduh atau jalan terus.

Opsi berhenti sejenak itu hampir tidak mungkin. Cuti kuliah karena lelah?

Ciyuss? Miapah?

Maka memang tak ada cara lain kecuali terus berjalan. Saya akan terus mengatakan ini: saya bersyukur memiliki pekerjaan yang menjadi bagian dari cita-cita besar saya. Namun, menjalani yang kita sukai ternyata bukannya tanpa kendala. Yang lumayan berat adalah bahwa setiap bulan saya mesti mengkonsep sekian artikel, membuat yang sebelumnya tak ada menjadi ada. Tuntutan untuk senantiasa melek dengan isu-isu di bidang keuangan dan kebijakan fiskal adalah sesuatu yang sangat menantang, sebenarnya. Tapi tantangannya menjadi sebesar itu ketika digabung dengan tugas-tugas kuliah yang melimpah. Dan di kantor, saya rasa sama seperti Anda, saya juga sering kali mesti berkompromi dengan hal-hal non teknis yang marilah biar to the point kita sebut dengan “drama”.

Di kelas, saya sering kali terpikir bahwa saya ini cupu. Bukan cuma saya seorang tentunya yang capek luar dalam karena kuliah sekaligus bekerja. Yang tidak ingin saya tutupi, beban kerja sesama PNS dengan golongan dan gaji sama, sering kali tidak sama. Tapi bukan artinya saya orang paling menderita di dunia juga kan? Saya merasa yang cukup sama mengalami kelelahan luar dalam ini adalah Firman dan Finny. Saya sekantor dengan Firman dan kayanya cukup tahu beban pekerjaannya. Mencari celah waktu untuk mengerjakan tugas diantara rutinitas rasanya enggak gampang banget. Finny, yang bekerja di perusahaan minyak terkemuka, pernah bercerita beberapa kali kepada saya bagaimana “tantangan” mencari waktu ini juga sama sekali tak gampang baginya. Berbincang dengan keduanya hampir selalu menambah energi saya. Paling tidak, saya merasa tidak sendiri.

Doping energi juga bisa muncul dari dosen-dosen UI yang luar biasa. Dua yang paling menginspirasi saya di semester ini adalah Pak Patia dan Pak Berly. Pak Patia adalah dosen mata kuliah akuntansi biaya yang tergolong sudah sangat sepuh. Tapi pada pertemuan perdana, dia secara inspiratif mengatakan,”Saya 35 tahun jadi dosen dan tidak pernah sekalipun terlambat atau tidak masuk mengajar.” Saya memprediksi usia Pak Patia di atas 70 tahun. Dalam usianya itu, dia masih sangat runtut dalam mengajar. Telinganya masih sangat awas dalam mendengar pertanyaan mahasiswa. Dia, seperti saya, bahkan masih bekerja dari pagi hingga jam 5 sore, sebelum mengajar di malam hari. Kira-kira apa kata Pak Patia kalau dia tahu saya mengeluh lelah menghadapi semua ini?

Pak Berly menginspirasi saya melalui cara yang berbeda. Usianya masih 36 tahun, tapi dia sudah menggenggam gelar master dan PhD dari universitas di Belanda dan Italia. Kharismanya berpendar-pendar tiap mengajar. Ilmunya seperti kebanyakan hingga saya merasa dia selalu memilih kata-kata pada mata kuliah makroekonomi agar mudah dimengerti mahasiswa. Saya sempat tidak masuk pada pertemuan perdana karena sedang perjalanan dinas. Pada pertemuan kedua, saya meminta bantuannya membuatkan sebuah surat rekomendasi untuk saya. Dia langsung setuju. Saya kirimkan CV dan segala yang dibutuhkan agar dia mendapat gambaran betapa penting surat rekomendasi itu bagi saya. Tidak terduga, beberapa hari kemudian dia membuatkan saya surat rekomendasi yang membuat saya sangat amat terharu membacanya. Saya berdoa setiap hari, mudah-mudahan surat rekomendasi Pak Berly tidak sia-sia.

Saya membayangkan bahwa masa-masa yang berat ini, suatu saat di masa depan justru akan sangat saya rindukan. Otak yang rasanya engak pernah berhenti berpikir. Badan yang setiap hari lebih banyak dialiri kaffein dibanding vitamin. Daur hidup yang dimulai jam setengah 7 pagi dan berakhir jam 2 pagi hari berikutnya–bahkan di kala weekend. Dan keyakinan bahwa segala ini untuk masa depan yang lebih baik yang sering kali goyah. Semoga inilah cara Tuhan memantaskan saya menuju cita-cita.

Saya, jujur saja, cukup sering kehilangan keyakinan dan sedih menghadapi ini. Dan saya kadang bereaksi lebih lebay terutama jika mengingat pertemuan dengan kawan satu angkatan SMA 3 Semarang di kantin UI, Salemba. Setelah sekian lama kami tak berjumpa, pada pertemuan itu dia bertanya,”Ardhi lagi ngambil S2 di sini juga?”

Saya tersenyum beberapa saat sebelum mampu menjawabnya.

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

Add a comment

Comments (9)

  1. Finny Tuesday - 16 / 10 / 2012
    Yup! You choose the right title.. Nobody said it was easy... Hmmm.. Sejujurnya, tulisan lo ini juga menyadarkan gw klo gw ga boleh mengeluh, dan cari2 alasan bwt menghindari pengerjaan tugas tertentu.. klo orang lain bs, knapa gw ga bs.. Hahaha.. It's time for us to push ourself to the limit... Ayoo! Semangat! Jadiin mimpi kita terwujud sedikit demi sedikit.. Sampai berjumpa 10 tahun lagi, ketika kerja keras kita saat ini membawakan hasil.. Amiiinnnn... Thank u so much ardhi, your blog is motivating me so much! Good luck! :')
    • Dwinanda Ardhi Wednesday - 24 / 10 / 2012
      Betul finn, kayanya kita sedang berhadapan pada kondisi yang mengharuskan untuk push ourself to the limit. That "klo orang lain bs, knapa gw ga bs"-lo itu yang inspiring. Hahaha... Keep fighting! Nanti kapan-kapan kita makan sushi yang di atas alfamart lagi...hahaha
  2. aprix Tuesday - 16 / 10 / 2012
    hmmm.... gw jg udah sering denger orang tua/ guru ngomong bahwa hidup gak mudah.. bahkan udah sering ngalamin juga (at some levels below yours) tapi yg gw yakinin gak bakal berubah dari ini semua adalah bahwa Tuhan itu adil, and He always did something in purpose of our own good..hehehe
    • Dwinanda Ardhi Sunday - 21 / 10 / 2012
      Semakin susah prosesnya, semakinmanis hasil yang akan kita dapatkan. Begitu kurang lebihnya ya aprix? :p
  3. Teguh Prasetyo Tuesday - 16 / 10 / 2012
    Hey, what are u talking about? No matter how hard or depressing it is just keep going, because you're now on the right path. I think it's the only way to show your gratitude that you are in this journey. the journey that not just everybody could experience.
    • Dwinanda Ardhi Sunday - 21 / 10 / 2012
      Terima kasih teguh...komennya mengena banget. Sometimes i wonder apakah agnezmo pernah nangis dalam usahanya yang luar biasa menuju cita-cita...dan apa yang dua lakukan saat keyakinannya goyah..karena tampaknya itu yang terjadi saat postingan ini ditulis. Tapi, sekali lagi thanks for your support. I really appreciate it :)
      • Teguh Prasetyo Sunday - 28 / 10 / 2012
        Agnes kan kaya kita juga, pastilah dia ngalamin itu juga. Emm, tapi dia selalu bilang kalo kita jangan pernah mau kalah sama keadaan. She keeps on believing. We should too.
  4. irma Thursday - 18 / 10 / 2012
    Sehari selembar benang, lama-lama sehelai kain. Sabar, suatu saat pasti (lebih) berhasil (lagi)
    • Dwinanda Ardhi Sunday - 21 / 10 / 2012
      Terima kasih mbak irma...janganlah bosan dengam sesi obrolan kalau aku bertandang ke meja mas Langgeng yaa....karena somehow itu lumayan meneguhkan iman untuk terus perxaya bahwa cita-cita bisa tercapai :p

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

October 2018
M T W T F S S
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Gallery