Pelajaran yang Tak Pernah Usai

Pelajaran yang Tak Pernah Usai

Bagaimana kita merespons perlakuan orang lain sesungguhnya adalah cerminan seberapa dalam kita mengenal dan menyayangi diri sendiri.

Saya sampai pada sebuah titik pemahaman di mana merawat hubungan dengan sesama manusia ternyata adalah pembelajaran yang tidak pernah usai. Di dalam lingkaran kehidupan kita, ada keluarga, pasangan, sahabat, teman, atasan, sampai orang-orang yang tidak kita kenal, yang kadang sama-sama besar perhatiannya terhadap hidup kita. Sebagai makhluk sosial, lingkaran ini tidak bisa kita abaikan. Yang juga tak bisa kita cegah, mereka datang dan pergi mengikuti alur hidup yang sudah digariskan.

Pada dasarnya, manusia saling datang dan pergi. Kita berinteraksi dengan manusia lain sebagaimana mereka menjalani hal yang sama. Dengan siklus seperti ini, lahir rasa pengertian, kasih, hingga kepo dan benci, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. 

Atas nama cinta di level tertinggi sampai dengan “hanya ingin tahu” di level paling dasar, manusia memberikan perhatian terhadap hidup manusia lain. Kita tentu tidak meragukan perasaan tulus cinta dalam kalimat pertanyaan ibu, Apakah kamu sudah makan malam, sayang?

Namun, bagaimana jika yang bertanya, misalnya adalah mantan kekasih yang sudah lama tak saling menyapa? Apa yang seketika melintas di benak kita ketika tiba-tiba dia memanggil sayang lagi?

Pada momen seperti inilah kita belajar bagaimana menjaga hubungan dengan manusia lain, sekaligus menyayangi diri sendiri. Yang saya pahami rasanya sekarang, terkadang kita tidak bisa mengontrol semua keadaan. Sering kali, kita tidak memiliki kuasa untuk mencegah seseorang berbuat atau tidak berbuat sesuatu, sekali pun mencegah mantan mengirimkan pesan, bak hujan di puncak Kemarau.

Sederhana sekali latar belakangnya, karena setiap kita meyakini nilai-nilai tertentu dalam merawat hubungan dengan orang lain. Yang kita anggap benar, sangat mungkin dicela habis-habisan oleh yang lain.

Apakah nilai yang diyakini satu orang bisa lebih benar dari nilai orang lain?

Apakah dasar tindakan seseorang melakukan sesuatu lebih tak berdosa dibandingkan orang lain?

Apa batasan ucapan dan perbuatan seseorang menyakiti atau tidak menyakiti yang lain?

Sekali lagi, sebab urusan dengan orang lain adalah proses belajar yang tak pernah usai, saya berhenti membebani hati dengan pikiran-pikiran yang melelahkan dan mencoba menjadi versi diri yang terbaik saja. Jika kita selami lebih dalam, ternyata ada banyak cara untuk menyayangi diri sendiri.

Sebuah suara berbisik panjang di kepala.

Luapkan cinta kasih pada mereka yang mengasihimu.

Tumpahkan energi pada hal-hal yang membahagiakanmu.

Doakan yang terbaik pada mereka yang berseberangan denganmu.

Saya bertanya balik kepada sebuah suara itu.

Apakah itu semudah yang kau bilang?

Ingatlah ibumu, ayahmu, dan Tuhanmu selalu, kata dia lagi.

Mata saya berkaca-kaca.

Pelajaran yang tak pernah usai.

Yang patah tumbuh 

Yang hilang berganti 

Yang hancur lebur akan terobati 

Yang sia-sia akan jadi makna 

Yang terus berulang suatu saat henti 
(Banda Naira)

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

July 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Gallery