Radio di Hidup Bayu

Radio di Hidup Bayu

Bayu Oktara yakin industri radio tak akan mati. Di tengah persaingan dengan media lain, Bayu melihat jumlah stasiun radio dengan segmen pendengar yang makin beragam justru bertambah. “Radio masih menjadi sarana utama untuk menciptakan tren di masyarakat,” kata pria 35 tahun tersebut saat ditemui di sela-sela memandu program Good Morning Hard Rockers di kantor Hard Rock FM Jakarta, belum lama ini.

Radio dapat bertahan karena memiliki keunggulan bisa didengarkan sambil melakukan berbagai aktivitas. “Sambil menyetir, olahraga, belajar, atau melakukan apapun siaran radio bisa didengarkan. Itu bikin radio dekat dengan masyarakat pendengarnya,” kata Bayu. Kekhasan radio yang lain adalah mampu menciptakan theater of mind. Informasi yang disampaikan penyiar sering kali menciptakan imajinasi yang berbeda-beda di benak pendengar.

Untuk dapat bersaing dan menjawab tantangan zaman, kini banyak stasiun radio yang menyediakan layanan streaming. Pendengar bisa melihat suasana di ruang siar secara langsung. Strategi lain yang banyak digunakan stasiun radio, kata Bayu, adalah mengurangi porsi bicara penyiar. Hal ini dilakukan agar pendengar mempunyai lebih banyak waktu untuk menikmati lagu dan hiburan lain yang disajikan. ”Radio juga dapat bertahan dan tak pernah kehabisan sumber penghasilan dari iklan karena tarifnya yang lebih murah dibandingkan televisi,” kata pria yang mengaku ketika kecil bercita-cita menjadi menteri riset dan teknologi itu.

Bagi Bayu, radio adalah hidup

Bayu memang sudah nyaman dengan kariernya di industri radio. Hidupnya ada di industri ini. Mengawali karier sejak tahun 1997, dia telah malang melintang di berbagai stasiun radio seperti Prambors, Ninetyniners Bandung, Ardan Bandung, Hard Rock FM Jakarta, Cosmopolitan Jakarta, dan saat ini kembali ke Hard Rock FM Jakarta. Karier di radio inilah yang juga mengantarkan pemeran Gusti dalam serial komedi OB itu menjalani beragam pekerjaan-pekerjaan lain di dunia hiburan. Selain sebagai aktor, Bayu juga melakoni profesi sebagai presenter dan bermain teater.

Menurut Bayu, menjadi penyiar radio tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. “Bukan cuma asal ngomong, tetapi bagaimana mendapatkan hati pendengar dengan cara dan materi siaran,” ungkap peraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Trisakti itu. Selama 3 tahun terakhir, Bayu memandu program siaran yang dimulai pukul 6 pagi. Mengalahkan kantuk dan membangun mood pendengar untuk memulai aktivitas menjadi tantangan tersendiri. Pada hari siaran, dia sudah terbiasa bangun pukul setengah lima pagi dan lekas berangkat ke kantor. “Kadang sarapannya di jalan,” ungkap pemeran Fanny Habibie—adik dari B.J. Habibie—dalam Film Habibie & Ainun itu.

Bayu memiliki cita-cita menerbitkan buku yang menceritakan segudang pengalamannya sebagai penyiar radio. “Isinya pengalaman-pengalaman seru seperti lolos seleksi menjadi penyiar, bagaimana menghadapi situasi mesti siaran sendiri, dan bagaimana serunya menjadi reporter serta produser,” kata dia.

Pada jangka panjang, Bayu juga ingin mendirikan sekolah penyiaran. “Saya ingin melihat lebih banyak orang yang menjadikan radio sebagai jalan hidup dan agar jangan ada lagi masyarakat yang melihat sebelah mata terhadap industri radio,” ungkapnya. Apalagi, tambah Bayu, perhatian pemerintah terhadap industri radio kini mulai tinggi. Dia mencontohkan upaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membuat blue print industri radio Indonesia masa depan dengan mengundang para pelaku industri radio, termasuk dirinya, beberapa waktu lalu.

Foto: Abdul Aziz

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

November 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Gallery