Salah

Salah

Kita berbuat salah. Semua manusia berbuat salah. Salah mencintai seseorang, salah mengambil keputusan, salah menyampaikan maksud hati, salah mengartikan perbuatan orang, salah kepada orang tua, teman, atasan, dan jenis salah yang lain. 

Tapi kita belajar dari kesalahan, menjadi lebih baik karenanya. Kita tumbuh setelah jatuh. 

Di antara rupa-rupa kesalahan, jatuh cinta pada orang yang salah adalah salah satu yang paling menyiksa. Salah jatuh cinta membawa kita pada periode yang tidak tertebak untuk berdamai dengan kenyataan. Sebagian butuh satu purnama, beberapa terjebak di dalamnya selamanya.

Kita berjuang untuk melupakan perasaan ditinggalkan. Kita melawan sakit untuk bisa bangkit. Kita menanam keyakinan bahwa apapun yang ada di dalam diri kita tak seburuk itu hingga layak dicampakkan. Dan setiap hari, kita melahirkan harapan baru untuk masa depan. 

Berada kembali di permukaan setelah lama tenggelam mungkin butuh waktu panjang. Kita bahkan kini tak tahu dimana dia yang dulu selalu berkata kamulah segalanya

Dia pergi.  Dia sudah pergi dan tak peduli lagi. Dia bahkan membiarkan kita tenggelam sambil terus berlayar menuju impiannya. 

Yang tersisa hanya diri kita, dengan rasa salah yang terus menghantui. Kita barangkali percaya hidup seperti roda yang berputar dan karma betul adanya. Tapi kita tahu mendoakan hal buruk hanya memperberat hati. Bukan hakikat manusia untuk membenci. Maka kita menggantinya dengan doa-doa yang baik. Untuk kita dan bahkan untuk dia yang menyakiti.

Kita berbuat salah. Yang membuat kita  berbeda dari versi diri sebelumnya adalah kesadaran untuk menjadi lebih baik. Luka, tak mungkin selamanya menyiksa jika kita tak mengizinkannya. 

Lalu kita terbangun dengan kesadaran bahwa pagi sesungguhnya selalu di situ. Dia satu-satunya yang setia menawarkan cerita baru. Hati kita terbuka saat menyadari bahwa sinar matahari selalu hadir bersama rasa syukur. Kesalahan yang menyisakan luka, sakit hati, dan perasaan lemah kita kubur. 

  

Kita berdiri lebih tegak setelah terserak. Kita berjalan ke arah yang tepat setelah pernah tersesat. Kita menemukan orang yang benar setelah pada orang yang salah kita berikan nyaris segalanya. Kita jauh lebih menghargai diri sendiri setelah susah payah mengobati hati. 

Kita, sesungguhnya, menjadi lebih kuat setelah memaafkan.

Berada kembali di permukaan setelah lama tenggelam mungkin butuh waktu panjang. Tapi, bagaimana pun berat gelombang, bukankah layar mesti tetap terkembang?  

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

September 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Gallery