Warna Cerah Pada Sastra Indonesia

Warna Cerah Pada Sastra Indonesia

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) layak berbangga karena memiliki penulis muda berbakat seperti Norman Erikson Pasaribu. Norman, biasa dia disapa, meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas pada saat usianya baru 23 tahun. Saat ini, hati Norman tengah bersuka cita. Buku kumpulan cerita pendek perdananya baru saja diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Oleh penerbitnya, pegawai yang mengawali karier di Kantor Wilayah DJP Jakarta Timur itu disebut sebagai “salah seorang penulis yang akan memberi warna cerah pada masa depan sastra Indonesia”.

Di sebuah kedai kopi di pusat perbelanjaan kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (19/4) lalu, Norman bercerita banyak soal kecintaannya pada dunia sastra. Dengan murah senyum, pemuda tinggi berbadan besar itu mengungkapkan bahwa salah satu kegiatan favoritnya saat akhir pekan adalah “berburu” buku impor bekas. “Setelah wawancara ini pun, saya akan langsung berburu buku bekas di daerah Blok M,” katanya dengan antusias.

Norman memiliki kira-kira 2000 buku yang hampir seluruhnya disimpan di rumah orangtuanya di Bekasi. Dia mulai mengumpulkan buku-buku itu sejak masih berkuliah program diploma III di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). “Kalau saya dapat uang makan (dari orangtua), hampir semua untuk beli buku. Untuk makan benar-benar sedikit, tapi kok masih gemuk ya?” katanya berseloroh. Buku kesukaan Norman adalah yang bergenre sastra kontemporer. Dia banyak membaca buku-buku karya pemenang penghargaan Pulitzer. Philip Schultz dan José Saramago adalah beberapa penulis luar negeri favoritnya.

Jika membaca tulisan-tulisannya saat ini, barangkali tak banyak yang menyangka bahwa Norman sempat memiliki pengalaman menyedihkan saat kecil. Dia mengaku baru bisa membaca menjelang akhir kelas 2 Sekolah Dasar. Namun begitu lancar membaca di kelas 3, Norman langsung tergila-gila pada kegiatan tersebut. “Kelas tiga SD saya hapal isi Buku Pintar Senior karangan Iwan Gayo,” kata Norman. Selain buku-buku pelajaran geografi, Norman kecil suka membaca buku kumpulan cerita rakyat Jepang. Novel serial Harry Potter juga menjadi teman masa kecilnya. Dia mengaku membaca serial karangan JK Rowling itu sampai berpuluh-puluh kali.

Di lingkungan keluarganya, Norman memang sudah dibiasakan membaca sejak kecil. Ayahnya yang seorang wartawan dan Ibunya yang berjualan di pasar sering menyuruh Norman dan tiga orang adiknya membaca buku. “Mama pernah bercerita bahwa ketika hamil saya, beliau ngidam-nya membaca koran,” ungkap Norman sambil tergelak. Kebiasaan membaca sejak kecil itu kini dirasakan Norman sangat bermanfaat. Dengan membaca, tulisan seseorang menjadi semakin terasah. “Contohnya, ada banyak cara untuk mengatakan bahwa suatu karakter berkepribadian baik,” tambahnya.

Norman tak pernah menyangka akan menerbitkan bukunya, “Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu”, pada usia 24 tahun. Meskipun gemar membaca sejak kecil, aktivitas menulisnya baru dimulai secara serius pada akhir tahun 2009. Pria kelahiran Jakarta, 18 Maret 1990 tersebut mengaku terlambat “jatuh cinta” pada sastra. Ketertarikannya itu muncul usai membaca cerpen “Makan Malam” karangan Linda Christanty. “Tuntas membacanya, saya langsung menangis keras,” kata Norman. Cerpen itu mengingatkan dia kepada ayahnya yang ketika dia kecil sering tak ada di rumah karena harus meliput. Sejak membaca cerpen Linda itulah dia mulai rajin menulis cerpen.

Norman mendapatkan honor menulis untuk pertama kali ketika cerpennya, “Tiga Kata Untuk Emilie Mielke Jr.” dipublikasikan oleh Harian Suara Merdeka pada tahun 2010. Honor pertamanya dari menulis juga dia gunakan untuk membeli buku. Sejak itu, cerpennya mulai dimuat di berbagai media cetak seperti majalah sastra Horison, Tanggomo, Global, Surah. Dia mengaku cerpen terpanjang yang pernah dia tulis adalah sepanjang 27 halaman. “Tapi tidak dimuat, mungkin karena terlalu panjang,” ungkap Norman.

Pencapaian bergengsi diraih ketika cerpen karangan Norman dimuat di harian Kompas. Cerpen itu adalah karya ke-22 yang dia kirimkan ke Kompas. Kegigihannya untuk menembus redaktur sastra di harian terkemuka itu berbuah manis. Tak hanya dimuat, cerpen yang berjudul “Sepasang Sosok yang Menunggu” termasuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2012. “Saya heran mengapa bisa terpilih, tetapi sekaligus senang karena itu membuka karir banget,” kata Norman yang sempat aktif di komunitas sastra Aksara STAN itu.

Selain karyanya dimuat di harian Kompas, Norman juga mencatatkan prestasi lain. Pada tahun 2012, dia diajak oleh Radio ABC Australia untuk sebuah proyek kepenulisan. Selain Norman, nama-nama lain yang turut serta dalam proyek itu adalah penulis muda Laire Siwi Mentari dan Andina Dwi Fatma. Pengalaman menulis itu meninggalkan kesan mendalam di benak Norman. “Meskipun bukan jurnalis, saya diberi kesempatan untuk menulis artikel features dimana sebelumnya saya harus melakukan wawancara dengan narasumber yang berusia di atas 70 tahun,” kenang Norman.

Norman berharap buku barunya dapat diterima penikmat sastra Indonesia. Di masa depan, selain ingin terus menulis, dia juga bercita-cita melanjutkan kuliah di Iowa Writers’ Workshop, University of Iowa, Amerika Serikat. “Tempat itu adalah kampus menulis paling tua di dunia. Tujuh belas penulis yang meraih penghargaan Pulitzer pernah berkuliah atau menjadi pengajar di sana,” pungkas Norman yang sedang menjalani program pendidikan D-IV di kampus STAN, Bintaro, itu.

Foto: Langgeng Wahyu Pamungkas

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

No comments yet.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

November 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Gallery