Yang Terakhir

Yang Terakhir

Aku mengenalmu sebagai orang baik. Sepertinya semua orang yang mengenalmu memberikan penilaian yang sama. Ada inti atom kebaikan yang dimasukkan Tuhan dalam tubuhmu. Dia memancar dimana pun kamu berada dan dengan siapa pun kamu berinteraksi.

Aku tak bisa lupa sebuah dialog di antara kita soal perbedaan aku dan kamu. Saat itu, rasanya ada setan dalam diriku yang membuat orang sabar dan banyak kasih sepertimu terbakar emosi.

“Kamu tahu, apa bedanya aku dan kamu?”

Nada bicaramu tak seperti biasa. Matamu yang teduh memerah.

“Tembok kamu terlalu tinggi.”

Kamu bicara soal tembok tinggi dengan nada yang tak kalah tinggI.

“Kamu bahkan enggak bisa percaya sama aku yang udah kenal kamu lama.”

Aku tak ingat persis bagaimana responsku. Tetapi aku yang brengsek ini rasanya tak mau kalah dan makin membuatmu marah.

Kamu melanjutkan bicara.

“Kalau kamu ketemu orang baru, kepercayaanmu ke orang baru itu adalah 0 persen. Baru kalau orang itu baik, kepercayaan akan naik sedikit demi sedikit.”

Kamu merasa aku tak memberikan kepercayaan yang cukup atas semua kebaikan yang telah kamu lakukan. Kepercayaan yang diperlukan dalam sebuah hubungan. Sementara kamu sebaliknya.

Kamu begitu terbuka dengan orang baru. Tanpa tembok, kamu menjadi orang yang menyenangkan karena berprinsip bahwa setiap orang itu baik. Bahkan terhadap siapa pun yang baru datang dalam hidupmu. Apalagi terhadapku yang pada saat itu bukan orang biasa dalam hidupmu (ya kan?).

Kepercayaanmu terhadap orang baru 100 persen. Baru jika orang itu ternyata tidak baik, tingkatannya perlahan menurun. Kira-kira begitu maksudmu.

Kamu adalah orang yang positif.

Darimu, ada begitu banyak pelajaran yang bisa aku petik. Sudah hampir delapan bulan sejak kita masih bisa berbicara baik-baik. Lalu kamu pergi. Tidak ada satu pagi pun aku terbangun tanpa rasa sesal. Tak ada satu malam terlewati tanpa rasa mengganjal.

Kini adalah saat terbaik untuk menghargai yang aku punya. Bersama tulisan ini kusampaikan sebuket terima kasih, karena ketika kita dipertemukan Tuhan di jalur yang sama dalam rentang waktu yang agak lama, kamu memberikan begitu banyak pelajaran.

Semoga kamu mendapatkan semua yang diinginkan: beasiswa, mobil yang bagus, rumah yang baik, karier yang menjanjikan, punya bisnis yang berjalan lancar, dan segala cita dan cinta yang lain.

Bolehkanlah aku menyampaikan satu surat terakhir ini, sebelum tak akan mengganggumu lagi.

Sesungguhnya sangat menyedihkan bagaimana kamu pergi begitu saja. Mungkin terasa sangat menyakitkan karena kamu datang dengan sangat baik-baik dulunya. Tapi, tak apa. Kamu tetap akan tetap terkenang sebagai orang baik yang pernah aku kenal. Semoga tentang aku yang kamu kenang, juga ada sisi baiknya.

Semoga kamu tak akan hanya mengenangku sebagai bagian dari sebuah kisah yang salah, wrong relationship.

Baru aku tahu sakit itu apa setelah kau bukan milikku | Baru aku tahu cinta itu apa setelah kau hapus cintaku | Yang dulu dalam hatimu…

Sumber gambar: http://exploregram.com/user/dagelan http://exploregram.com/user/dagelan

 

Author Description

Dwinanda Ardhi

Add a comment

Comments (1)

  1. rina Wednesday - 21 / 01 / 2015
    Perbedaan karakter yang mencolok, sepertinya dimana-mana terkadang menghasilkan akhir yang sama, bukan untuk men-generalisasi-kan tetapi memang seperti itu. Ego masing-masing yang bertembok tinggi ataupun tidak bertembok, pasti memiliki alasan tersendiri. Seandainya ego tersebut dapat diturunkan apakah akhirnya akan berbeda. saya pun juga tidak tahu. Tetapi yang pasti saya amin-kan doa-doa yang ada pada tulisan di atas. Semoga Yang Diatas juga mendengar doa-doa tersebut.

Add a comment

You must be logged in to post a comment.

Calendar

July 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Gallery